Welcome to Poso

Archive for the ‘Ekonomi’ Category

  • In: Ekonomi | Investasi | Pemerintahan
  • Comments Off on Pabrik Pengolahan Tambang (Smelter) Terbesar di Dunia Dibangun di Sulawesi Tengah.

Sekitar 8 jam perjalanan darat dari Poso ke arah tenggara, tepatnya di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah sebentar lagi akan terdapat pabrik pengolahan hasil tambang (smelter) terbesar dunia bernilai Rp21 triliun. Maklum pulau Sulawesi bagian tengah dan tenggara memang kaya dengan hasil tambang berupa nikel dan sejumlah mineral lainnya seperti chrom dan biji besi.

Di daerah tersebut sudah beroperasi dua perusahan tambang skala besar yaitu PT Vale Indonesia (dulu PT INCO) dan PT Aneka Tambang. Ketika larangan ekspor mineral mentah belum dikeluarkan, daerah Morowali dan sekitarnya sangat ramai akan aktivitas tambang.

Smelter tersebut rencananya dibangun oleh konsorsium bernama PT Sulawesi Mining Investment (PT SMI), yang merupakan patungan Bintang Delapan Group dengan Tsingshan Group dari Tiongkok. Sebagaimana dilansir Kementerian Perindustrian, PT SMI merencanakan investasi awal sebesar US$320 juta dengan kapasitas produksi direncanakan 300 ribu ton nickel pig iron. Investasi selanjutnya akan ditanam sebesar US$640 juta untuk memproduksi 500 ribu ton nickel pig iron.

Proyek strategis nasional ini  dapat mempekerjakan lebih 30 ribu orang. Termasuk di dalamnya adalah tenaga ahli sampai pendidikan S2. Untuk sementara, posisi tenaga ahli di lokasi saat ini banya juga diisi oleh tenaga kerja asing dengan spesialisasi konstruksi engineer untuk smelter, terutama dari Tiongkok.

Smelter yang mengambil lahan seluas 230 hektare ini beroperasi kawasan terpadu PT Morowali Industrial Park. Smelter tahap pertama dengan kapasitas 300 ribu ton akan didukung dengan daya listrik PLTU 2 x 65 MW, dan diharapkan sudah berproduksi bulan depan, April 2015. Tahap kedua yang akan memproduksi 600 ribu ton dijadwalkan akan beroperasi penuh Desember 2015 mendatang.

Sulawesi saat ini sedang menggeliat dan akan menjadi salah satu sentra industri tambang nasional. “Bea Cukai Poso siap membantu segala proses pelayanan dan pengawasan ekspor impor demi mendukung pengembangan industri strategis di wilayah kerja kami,” kata Wahyu Purwanto disela kunjungan kerja meninjau Morowali Industrial Park.

Morowali Industrial Park sendiri akan dikembangkan sampai 2000 hektare. Selain mega-smelter, di kawasan tersebut juga akan dibangun pabrik pengolahan nikel dan baja (stainless steel), industri pendukung dan bandara. Pembangunan tahap ketiga tersebut akan memproduksi 300 ribu ton nickel dan 2 juta ton stainless steel, dengan dukungan PLTU 300 MW.

(Kemenperin.go.id, Metrotvnews.com, MetroSulawesi.com, TvOne, Infotambang.com, Merdeka.com, dll)

Advertisements
Tags:

Sisa kerusuhan besar tahun 2000 sudah tak ada lagi di Poso, Sulawesi Tengah.  Namun kenangan pahit akan peristiwa diluar nalar itu tetap membekas dalam ingatan warga. “Warga sini sudah semakin rasional, tiada mudah dihasut. Sekarang kami terus berusaha membangun sekalipun bayangan kerusuhan itu masih teringat,” tutur Nurdin (42), pengelola penginapan Julijus di Tagolu, Kecamatan Lage, Kabupaten Poso.

Tagolu berjarak hanya tujuh kilometer dari kota Poso. Letaknya persis di pertigaan jalan poros Trans Sulawesi yang menuju Ampana dan Tentena.

Menikmati senja yang teduh di lekukan teluk Tomini, Poso

Ke kota itu kami singgah semalam, Minggu (11/3/2012),  dalam perjalanan bersepeda dari Tentena menuju Ampana.

Dulu sebelum kerusuhan, Tagolu merupakan salah satu sentra pembuatan aneka suvenir berbahan kayu hitam khas Poso. Suvenir seperti jam dinding, asbak, hiasan dinding dibuat oleh perajin asal Jawa.

“Sepanjang pinggir jalan ini orang buka usaha pembuatan sekaligus penjualan suvenir dari kayu hitam. Saat kerusuhan, para perajin menghilang dan sekarang mereka pindah ke kota,” tutur Nurdin sambil menunjuk sederetan kios kosong yang pintunya tertutup rapat di pinggir Jalan Raya Trans Sulawesi seberang penginapan.

Hingga kini kios-kios itu masih tetap kosong. Belum ada usaha baru yang mengisinya, tanda roda ekonomi setempat belum benar-benar pulih seperti sebelum kerusuhan.

Penginapan yang dikelola Nurdin baru buka setahun lalu.  Kamar-kamarnya mirip rumah kos dengan tarif Rp 75.000-Rp 125.000 per kamar.

Satu-satunya penginapan di Tagolu itu cukup layak jadi tempat singgah dalam perjalanan bersepeda di Sulawesi. Lahan parkir luas, kamar bersih, dan kita  leluasa untuk cuci-jemur pakaian.

Sesudah sarapan nasi kuning yang lezat di warung dekat pertigaan, kami melesat ke arah Tojo. Jalan langsung mendaki landai berkelok-kelok melipir punggungan. Di beberapa titik, jalanan amblas. Interval kendaraan bermotor lewat tiga sampai lima menit, ideal sekali bagi turing bersepeda.

Di desa Tongku, kami melintasi sabana yang menghijaukan perbukitan. Ternak sapi dan kambing dibiarkan berkeliaran merumput. Beberapa hewan berjalan bebas di jalanan yang sepi kendaraan.

Tadinya tujuan kami adalah Tojo yang berjarak 76 km. Namun saat tiba di Tojo kami mendapat informasi soal Padapu yang masih 25 km di depan. Maka kami teruskan saja menggowes kesana.

Dusun itu sebenarnya hanya sekumpulan warung makan di pinggiran laut. Lingkungan yang asri membuatnya sangat layak  dijadikan tempat perhentian dalam perjalanan bersepeda menuju Ampana.

Rupanya, kenangan buruk akan kerusuhan juga masih membekas dalam benak Un Tengker, pemilik penginapan Sahabat di Padapu. Un yang kami panggil tante, kehilangan adik iparnya saat kerusuhan itu.

“Tapi semua so berlalu, toh. So tak ada lagi kerusuhan. Orang so sadar tak ada guna baku bunuh, hanya bikin orang ketakutan datang kemari,” tutur tante Un yang masih segar bugar di usianya yang lanjut.

Apa yang dikatakan tante Un benar adanya. Selama beberapa hari di wilayah yang disebut-sebut masih rawan itu, tak ada kekhawatiran sama sekali soal keamanan atau kriminal jalanan. Yang ada hanya keindahan alam luar biasa dan keramahtamahan penduduknya yang melekat di hati kami. Sulit membayangkan ketenangan wilayah ini terkoyak begitu saja oleh kerusuhan sesaat.

Padapu masuk wilayah Kecamatan Podi, Kabupaten Tojo Una-una (Touna). Letaknya di teluk kecil yang kami capai setelah menyusuri jalan aspal mulus berpagar gunung karang tinggi dan laut dalam membiru Teluk Tomini.

Sebelum masuk Padapu, kami saksikan sisa-sisa kedahsyatan banjir besar Sungai Podi pada 2001. Banjir menimbulkan kerusakan besar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Katopas. Endapan pasir tebal dan material dari gunung menutupi sisi jalan.

“Ada tiga danau alam di kaki gunung, salah satunya ambrol sehingga terjadi banjir. Kejadiannya siang hari, tidak ada korban tapi jalanan terputus dan baru tiga tahun kemudian diperbaiki,” tutur Ronald Sumual, anak tante Un.

Suasana Padapu terasa tenteram. Serangga hutan bernyanyi sepanjang hari. Suaranya berpadu dengan riak ombak kecil memecah pantai berbatu bulat yang membentang di depan rumah. Iramanya harmonis sekali. Di samping rumah, mengalir sungai jernih yang airnya dingin.

Listrik dari genset hanya mengalir pukul 18.00-20.00 di penginapan sederhana bertarif Rp 50.000 semalam itu. Satu kamar bisa diisi sampai empat orang. Sekalipun ada tiang listrik berdiri dekat penginapan, aliran listrik lebih sering ‘byar pet’ sehingga para pemilik warung membeli genset sendiri.

Setelah membongkar muatan sepeda, Ocat dan Abidin langsung terjun ke laut. Untuk membilas tubuh, mereka lalu berendam di air sungai. Ah, Padapu benar-benar seperti surga kecil di sudut Teluk Tomini yang tenang.

Tante Un mengatakan, sejak buka penginapan 12 tahun lalu tempatnya kerap disinggahi turis asing yang datang dengan bersepeda. Beberapa kelompok berjumlah lima sampai 15 orang mengikuti paket perjalanan turing dengan dukungan kendaraan yang berjalan di belakang.

“Kelompok lain yang jalan sendirian atau berdua-bertiga. Tak ada yang kawal, semua barang dibawa sendiri di sepeda, persis seperti kita ini,” tutur tante.

Setelah kerusuhan, rombongan pengelana asing itu menghilang. Mereka baru muncul lagi setelah 2005. Namun sampai sekarang jumlahnya tak sebanyak dulu lagi.

Pantai Pasir Putih (Poso), kebeningannya selalu menggoda

“Orang sini so biasa lihat bule bersepeda. Tapi kalau orang lokal bersepeda seperti kita, belum pernah lihat, makanya mereka bilang kita bule palsu,” tutur tante Un sambil tertawa lepas.

Gaya bicaranya yang ceplas ceplos dan suasana sore itu membuat kami betah ngobrol ngalor ngidul di beranda rumah. Kelelahan setelah seharian gowes nyaris tak terasa.

Di ufuk barat, mentari mulai terbenam. Semburat warna jingganya mengantar kami menyambut malam yang begitu tenang di Padapu. (Max Agung Pribadi, KOMPAS)

Paduan Suara Kontemporer Siswa-siswi SMU GKST Poso

Festival Danau Poso (FDP) kembali digelar di kota wisata Tentena, Poso , Sulawesi Tengah. Festival budaya masyarakat Poso ini dibuka secara resmi oleh Gubernur Sulawesi Tengah, Longki Djanggola pada tanggal 28 Oktober 2011 dan direncanakan berlansung sampai tanggal 31 Oktober 2011.

Penyelenggaraan FDP kali ini memasuki kali yang ke-14 dan dilangsungkan di arena FDP, yaitu suatu kawasan luas di tepian danau Poso. Di arena FDP sendiri telah berdiri bangunan-bangunan permanen berupa rumah adat suku Pamona yang difungsikan sebagai akomodasi kontingen-kontingen dari kabupaten lain selama FDP berlangsung.

Acara pembukaan FDP berlangsung cukup meriah dengan kehadiran jajaran pemerintahan propinsi Sulteng serta bupati dari beberapa kabupaten yang turut memeriahkan acara ini. Sayangnya penyelenggaraan pekan budaya ini, sebagaimana juga di daerah lain, masih sarat unsur politis.

Acara pembukaan FDP juga tidak lepas dari acara birokratis yang membosankan. Setidaknya 3 sambutan dibacakan di hadapan hadirin yang sesungguhnya menantikan suasana festival. Jadilah acara pembukaan benar-benar seperti upacara atau rapat formal pemerintahan. 2 orang wisatawan asing yang tadinya duduk di panggung kehormatan langsung beranjak pergi saat sambutan-sambutan dimulai. Untung saja Menteri Pariwisata tidak hadir untuk menambah panjang daftar sambutan.

Gadis-gadis Poso dalam balutan busana adat Pamona

Potensial

Festival Danau Poso sebetulnya sangat potensial untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata. Penyelenggaraan FDP yang mengambil tempat di tepian danau Poso yang indah. Keberadaan infrastruktur sudah sangat baik. Sayangnya pemerintah Poso sepertinya belum mengerti cara memaksimalkan potensi wisata daerahnya.

Penyelenggaraan FDP pun masih dikemas setengah hati. Di lokasi FDP sangat sulit menemui tempat makan yang layak ataupun tempat untuk sekedar minum kopi. Beberapa tamu yang kelaparan terlihat memenuhi  warung-warung yang berjarak beberapa kilometer dari arena FDP. Fasilitas toilet umum juga tidak terlihat.

Arena FDP sendiri sebetulnya bisa menghasilkan PAD sepanjang tahun tanpa perlu menunggu penyelenggaraan FDP. Bila dikelola dengan baik, arena FDP bisa dikembangkan sebagai taman budaya yang indah dan layak untuk dikunjungi.  Keindahan danau Poso sebetulnya jauh lebih indah dari danau Bedugul dan danau Batur di Bali dan sangat layak untuk dimaksimalkan.

Puteri Pariwisata 2011

Putri Pariwisata 2011, Melissa Putri Latar yang menghadiri FDP 2011 didampingi Puteri Wisata Sulteng 2010 mengemukakan hal senada. Ia terlihat sangat terkesan dengan keindahan danau Poso dan mengatakan bahwa masih banyak potensi wisata yang seharusnya bisa dikembangkan untuk kemajuan masyarakat Poso.

Masyarakat Pamona, suku asli Poso, sebetulnya sangat kaya dengan atraksi budaya yang harus dilestarikan. Salah satu atraksi kesenian yang ditampilkan adalah orkestra musik bambu yang menyambut setiap tamu yang datang. Pembukaan FDP 2011 ditutup dengan penampilan paduan suara kontemporer siswa-siswi SMU GKST Poso yang membawakan 2 lagu berbahasa setempat, disertai gerak tari yang menarik.

Sosialisasi dan Keseriusan Pemda

Festival Danau Poso sebenarnya cukup terkenal, terutama di kalangan masyarakat Sulawesi Tengah. Akan tetapi bila penyelenggaraan FDP memang dimaksudkan untuk menarik wisatawan, sepertinya tujuan itu masih belum tercapai. Pantauan Posocity di acara pembukaan FDP menunjukkan tidak adanya tanda-tanda kehadiran wisatawan yang signifikan.

Hal ini kemungkinan disebabkan karena  kurangnya promosi dan sosialisasi penyelenggara FDP, dalam hal ini pemda Kabupaten Poso dan pemda Sulawesi Tengah. Padahal acara-acara yang disiapkan cukup beragam. Misalnya saja lomba perahu di danau Poso, pagelaran busana adat, lomba menangkap ikan sogili (ikan khas danau Poso), pemilihan putera-puteri wisata Sulteng, Panjat pinang, lari massal 10 dan 5 km, lomba tarian dero yang sangat populer di Sulawesi, dan berbagai aktivitas budaya lainnya.

Animo masyarakat dan wisatawan untuk mendatangi FDP juga sangat rendah. Hal ini terlihat dari pengunjung FDP yang hanya didominasi oleh pegawai pemerintahan yang termobilisasi ke arena. Pengunjung mayoritas FDP lainnya adalah unsur pengamanan dari Polri yang cukup mencook,baik yang berseragam maupun berpakaian sipil. Masyarakat umum yang ada di lokasi tidak terlalu banyak dan berdiri agak jauh dengan pengawalan aparat.

Di hari berikutnya, stand-stand pameran tetap saja lengang. Barang-barang yang dipamerkan memang tidak menarik sama sekali. Padahal jika diimbangi dengan promosi yang baik, ajang ini dapat dimanfaatkan untuk mempertemukan penjual dan pembeli potensial. Tidak heran, pada hari kedua, beberapa stand tak perpenghuni lagi bahkan sudah mulai dibongkar.

Semoga penyelenggaraan FDP berikutnya jauh lebih baik untuk layak disebut Festival.

Orkestra Musik Bambu, sepertinya perlu regenerasi

Pelaksanaan Pilkada di Poso (06/04) untuk memilih gubernur Sulawesi Tengah periode 2011 – 2016 berlangsung tertib dan disambut masyarakat dengan cukup antusias. Sekolah-sekolah diliburkan, termasuk kantor-kantor pemerintahan ditutup sehari penuh. Hal ini dimaksudkan untuk memaksimalkan peran masyarakat Poso dalam proses demokratisasi.

Dari pantauan Posocity, masyarakat Poso sudah mendatangi Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang disediakan di lokasi-lokasi strategis, untuk menggunakan hak pilih. Terdapat 5.294 TPS tersebar di seluruh 10 kabupaten dan 1 kotamadya se-Sulawesi Tengah.

Adapun calon gubernur Sulawesi Tengah yang berkompetisi dalam pilkada ini adalah Aminuddin Ponulele-Luciana Baculu, Sahabuddin Mustapa- Faisal Mahmud, Longky Djanggola- Sudarto, Rendy Lamadjido- HB Paliudju, dan Achmad Yahya-Ma’ruf Bantilan. Kelima pasangan tersebut memperebutkan sekitar 1,7 juta suara dari calon pemilih yang terdaftar.

Dua nama besar dalam Pilkada ini adalah HB Paliudju yang masih menjabat sebagai Gubernur Sulawesi Tengah dan Achmad Yahya yang juga masih menjabat sebagai Wakil Gubernur Sulawesi Tengah. Keduanya telah mengakhiri masa jabatan pada tanggal 24 Maret 2011 lalu.

Hasil perhitungan yang dikeluarkan beberapa lembaga quick count menunjukkan pasangan Longky Djanggola- Sudarto merupakan pemenang mutlak pilkada ini dengan catatan kemenangan di atas 50%. Lingkaran Survei Indonesia (LSI) mencatat Longki Djanggola-Sudarto meraih 53,98% sedangkan Rendy Lamadjido- HB Paliudju hanya 13,07% suara. Hasil dari Script Survei Indonesia (SSI) menunjukkan pasangan Longki Djanggola- Sudarto berhasil meraih 59,38%, jauh di atas Rendy Lamadjido- HB Paliudju yang mengumpulkan 9,74% suara.

Longki Djanggola yang diusung oleh partai Gerindra, Hanura, PDP, Patriot, PPP, PKPB dan PKS, saat ini masih menjabat Bupati Kabupaten Parigi Moutong. Beberapa pihak mencatat kemenangan Longki sebagai pengakuan atas keberhasilannya memajukan daerah yang dipimpinnya. Profil pribadi yang santun dan bersahaja menjadi kunci keberhasilan Longki mendominasi pemungutan suara di Sulawesi Tengah.

Meski belum ada rilis resmi dari KPUD Sulteng, kota Poso sendiri terlihat semarak dengan hasil kemenangan pasangan Longki Djanggola-Sudarto. Di beberapa posko pendukung, terdengar musik dan keramaian hingga tengah malam.

 

 

Merpati MA 60

Sejak tahun Maret 2009, penerbangan ke Poso kembali dibuka untuk melayani mobilitas penumpang yang bepergian ke dan dari kota-kota di Sulawesi. Beberapa maskapai yang tercatat secara bergantian merintis penerbangan langsung ke Poso adalah Sabang Merauke Air Charter (SMAC) dengan kepasitas 20 penumpang, Merpati Airlines dengan Cassa 212, sampai Express Air dengan kapasitas 40 seat.

Express Air belakangan tidak memperpanjang kontrak dengan Pemda Poso, dan menghentikan penerbagan ke daerah tersebut. Rute ini kembali direbut Merpati Airlines dengan melakukan penerbangan perdana Makassar -Poso pada tanggal 29 Maret 2011. Kali ini Merpati memberikan pesawat yang lebih besar jenis MA 60 dengan kapasitas 56 kursi.

Sales and Service Manager PT Merpati Nusantara Airlines Iman Bagus Nugraha mengatakan bahwa penerbangan ke Poso akan dilayani Merpati tiga kali seminggu yaitu Selasa, Jumat dan Minggu. Pemesanan tiket sudah dilayani secara online sehingga memudahkan calon penumpang untuk memesan tiket melalui internet dari seluruh penjuru dunia. Harga tiket Poso – Makassar atau sebaliknya sekitar Rp467.000 (per 29 Maret 2011).

Petugas Bea Cukai di salah satu minimarket, Poso

Dalam release yang diterima mediaposo.com,  Bea Cukai Poso menyatakan telah berhasil menyita ribuan bungkus rokok dari beberapa toko dan mini market di kota Poso. Rokok rokok itu disita dalam serangkaian operasi yang digelar oleh Petugas Bea Cukai Poso. Rokok dengan berbagai merek tersebut disitua karena menggunakan pita cukai yang tidak tepat peruntukannya sehingga berpotensi merugikan negara dan membahayakan masyarakat.
“Rokok merupakan barang yang dibatasi peredarannya,” kata Kepala Kantor Bea Cukai Poso, Adeltus Lolok. “Pemerintah menerapkan cukai agar rokok tidak tersedia dalam harga murah yang dengan mudah dibeli oleh masyarakat, termasuk anak-anak sekolah.”

Rokok sebagaimana minuman beralkohol, merupakan barang konsumsi yang dibatasi peredarannya. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa rokok sebetulnya sangat berbahaya. Berbagai kandungan kimia dalam rokok berkaitan langsung dengan berbagai penyakit seperti penyakit jantung, aneka kanker, gangguan kehamilan yang berpotensi memberi cacat bawaan pada bayi, dan impotensi.

Adalah dilema bagi pemerintah untuk melarang 100 persen rokok. Merokok sudah merupakan budaya bangsa turun-temurun dan diterima dalam berbagai lapisan masyarakat. Selain itu, rokok merupakan bisnis yang sangat besar dan terkait dengan nasib ratusan ribu tenaga kerja dan keluarganya yang menggantungkan hidup pada industri rokok. Belum lagi bila dikaitkan dengan para petani cengkeh, tembakau dan seterusnya. Rokok merupakan unsur penting bagi kehidupan banyak orang.

Kepala Bea Cukai Poso menekankan bahwa selain sebagai alat kontrol, cukai memegang peranan penting untuk penerimaan pendapatan negara. Tahun 2010 ini, Bea Cukai dituntut untuk megumpulkan sekitar Rp87 triliun dari cukai rokok, industri alkohol dan minuman beralkohol. Target tersebut jauh di atas target dari sektor ekspor impor yang ‘hanya’ Rp22,5 trilliun.
“Dengan penerapan cukai yang tinggi, banyak pengusaha yang berusaha menghindari pajak dengan cara menggunakan pita cukai yang tidak benar. Bisnis seperti ini memiliki dosa ganda . Pertama menyebarkan rokok murah ke masyarakat sehingga berpotensi memancing perokok pemula, termasuk anak-anak. Kedua, pita cukai yang tidak tepat merugikan keuangan negara,” tegas Adeltus.

Dengan personil yang terbatas, sebetulnya Bea Cukai Poso hampir mustahil untuk melaksaknakan pengawasan dan pelayanan ekspor impor serta cukai di 3 kabupaten besar sekaligus yaitu Kabupaten Poso, Kabupaten Tojo Una-una dan Kabupaten Morowali. Berkoordinasi dengan berbagai instansi terkait dengan dukungan masyarakat, Bea cukai Poso menekankan langkah-langkah sosialisasi sampai penindakan represif terhadap toko dan distributor rokok sehingga secara perlahan diharapkan kawasan ini dapat terbebas dari peredaran rokok yang menyalahi ketentuan.
“Rokok merupakan bisnis besar, tetapi juga mengandung potensi bahaya bagi masyarakat dan negara bila tidak diatur tata niaganya sebagaimana diatur dalam UU no 39 tahun 2007. Hasil ini belum seberapa dan kami akan terus memperluas operasi di wilayah kerja kami. Ini amanat, serta sejalan juga dengan program pemerintah yang saat ini sedang memberantas kejahatan di bidang perpajakan, termasuk cukai,” tandas Adeltus.

Mengenai mahalnya harga rokok yang dapat memberatkan masyarakat kecil, Adeltus menyarankan agar masyarakat merokok sesuai kemampuan. Jangan sampai penghasilan keluarga dihabiskan untuk konsumsi rokok. “Mengingat harga rokok yang semakin meningkat, secara pribadi saya menghimbau masyarakat untuk mengurangi konsumsi rokok, dan lebih mengkonsentrasikan penghasilannya untuk keluarga dan hal-hal yang lebih bermanfaat,” saran Adeltus Lolok menutup press release.

(http://www.mediaposo.com)

Dornier 328 at Kasiguncu Airport

Penerbangan Express Air ke Poso sempat menghilang sementara waktu. Akan tetapi tanggal 27 Agustus 2010, Express Air kembali menerbangi rute Poso – Makassar pulang pergi 2 kali seminggu. Jadi saat ini Poso sudah diterbangi pesawat dari Makassar 5 hari seminggu. 3 penerbangan lainnya diopeasikan oleh SMAC (Sabang Merauke Air Charter).

Dengar-dengar kata orang, terbang dengan pesawat kecil agak sedikit mendebarkan. Mungkin karena ukurannya yang kecil sehingga pesawata mudah tertiup angin kesana kemari di angkasa sana. Benarkah?

Kesempatan mencoba pesawat Express Air yang akan terbang ke Makassar tanggal 27 Agustus. Pesawat jenis Dornier 328 tersebut berkapasitas 32 kursi, masih terlihat baru. Tampilannya sekilas mirip jet pribadi he he.. Pihak Express Air memang baru-baru ini menambah armadanya dengan Dornier 328 buatan Jerman untuk menerbangi rute-rute perintis sampai Irian Jaya.

Jam 14.00 pihak travel di Poso sudah menghimbau supaya segera ke bandara Kasiguncu karena pesawat akan diberangkatkan jam 15.00. Enak juga ya, kita malah diingatkan pihak travel. Padahal kami sudah di bandara hanya belum check in karena keasyikan ngintip Dornier dari jauh.

Interior Dornier 328 Express Air

Tidak berapa lama, penumpang diminta berjalan ke dalam lapangan bandara langsung naik pesawat. Ternyata hari itu, kami hanya ber-12 orang di pesawat. Jadi kami bebas memilih seat. Satu baris kursi terdiri dari 3 kursi. Lutut terasa lega, jauh lebih lapang dari pesawat komersial lain yang berbadan gede. Barang bawaan pun ada tempatnya di atas kabin yang memadai. Pada pesawat SMAC, tidak ada tempat untuk menaruh tas tentengan.

Mbak pramugari, meski sendirian, tidak kalah sigap melaksanakan tugasnya. Pesawat mulai bergerak perlahan menyusuri runway Kasiguncu. Ajaib, suaranya halus banget padahal 2 baling-baling di sayap berputar kencang. Saat take off juga mulus.

Karena ketinggian penerbangan tidak terlalu tinggi, sepanjang perjalanan dapat menjadi wisata alam yang sangat menarik. Lukisan alam Sulawesi membentang di bawah sana menyajikan aneka pemandangan. Gunung-gunung batu khas Sulawesi, danau berseling persawahan, untaian sungai ditengah hijau pepohonan…sungguh sajian yang menakjubkan.

Perjalanan satu jam ke Makassar tentu saja tidak terasa. Pendaratan di bandara Sultan Hasanuddin juga berjalan mulus. Wah, transportasi Makassar Poso sekarang sangat nyaman dan tentu saja hemat waktu. Coba dengan Dornier, setiap Selasa dan Jumat.Tentu saja penerbangan ini dapat diatur supaya connecting dengan penerbangan ke Jakarta.

Harga tiket Makassar Poso? Cuma Rp455.000.