Welcome to Poso

Lian Gogali, Wanita Perekat Perdamaian di Poso

Posted on: 11 July 2014

  • In: Pendidikan
  • Comments Off on Lian Gogali, Wanita Perekat Perdamaian di Poso
Lian Gogali: Kruk dan tongkat tak jadi halangan menebar harapan dan semangat perdamaian.

Lian Gogali: Kruk dan tongkat tak jadi halangan menebar harapan dan semangat perdamaian.

Sekolah Perempuan Mosintuwu yang didirikan Lian Gogali tak hanya merekatkan hubungan Muslim-Kristen di Poso, tapi juga menanamkan kesadaran gender. Seorang ibu menceritakan bahwa dirinya sering mengalami kekerasan dari sang suami. Sejak aktif di Sekolah Perempuan, ibu tersebut berhasil menyadarkan suaminya. Selain itu, si ibu menjadi pintar membuat kue dan mengerti cara bercocok tanam secara organik.Ada delapan “mata pelajaran” di Sekolah Perempuan itu. Semuanya dititikberatkan pada agama, toleransi, dan perdamaian. Pelajaran tak hanya dipraktekkan di kelas, tapi juga dengan berkunjung ke masjid dan ke gereja. “Kami ingin mengurai kesalahan penafsiran yang terjadi selama ini bahwa Islam seolah-olah mengajarkan membunuh, dan orang Kristen punya tiga Tuhan,” kata Lian.

Peran program membaca buku dan perpustakaan keliling Project Sophia tak kecil. Menurut Lian, Project Sophia, mencuil nama putri tunggalnya, Sophia Ava Choirunissa Gogali, 5 tahun, yang bertujuan memulihkan trauma anak-anak korban konflik. Mobil yang mengangkut buku-buku itu berkeliling ke 24 desa di Poso.

Upaya Lian mendampingi para korban konflik berawal dari perasaan “berutang” kepada ibu-ibu yang diwawancarainya saat penelitian untuk tesis kuliahnya di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Tesis itu bertajuk “Politik Ingatan Perempuan dan Anak dalam Konflik Poso”.

Seorang ibu di lokasi pengungsian Silanca, Kecamatan Lage, bertanya kepada Lian. “Apa yang terjadi pada kami setelah Lian pergi?” Lian tidak sanggup menjawab. Dia malah sulit tidur memikirkan pertanyaan itu. Pada 2007, dia kembali ke Poso dan menetap di Pamona. Aktif di Asian Muslim Action Network dan Poso Center, kemudian pada 2009 Lian mendirikan Sekolah Perempuan Mosintuwu untuk kaum wanita lintas agama. “Saya bisa mendapat master karena mereka.”

Lian sebenarnya juga bagian dari korban konflik Poso. Ketika kekerasan di Poso pecah dan membakar rumahnya, Lian tengah menempuh pendidikan sarjana di Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta. Akibatnya, kecamuk pada 1997 itu membuat kiriman uang dari Poso macet total. “Saya pernah menjadi pembantu rumah tangga,” katanya.

Melalui sekolah itulah para ibu mulai menjadi agen pencegah konflik. Jika ada isu yang menjurus pada kerusuhan, mereka segera berkomunikasi melalui telepon. “Kalau sudah mulai orang berkumpul, saya sampaikan itu hanya isu,” kata Asni Yati Hamidi, 32 tahun, pemeluk agama Islam dari DesaTangkura, Poso Pesisir Selatan.

Lian Gogali saat diskusi bersama ibu-ibu korban konflik di pantai Imbo, Madale, Poso Utara.

Lian Gogali saat diskusi bersama ibu-ibu korban konflik di pantai Imbo, Madale, Poso Utara.

Perjuangan Penuh Tantangan

Perjuangan Lian Gogali, 35 tahun, dalam mendirikan sekolah perempuan Mosintuwu di Poso mengarungi suka dan duka. Impiannya untuk merekatkan kembali hubungan Muslim-Kristen di Poso kerap menghadapi tantangan. Tapi, Lian juga mengalami pengalaman yang unik.

Salah satu peristiwa unik itu adalah “penculikan” Lian pada 2004. Saat itu, lulusan S-2 Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ini tengah mengunjungi pengungsi korban konflik di Kayamanya, Poso Kota.

Sekitar pukul sembilan malam, seseorang yang mengenal Lian mengundang untuk berdiskusi. Dengan senang hati, Lian menuruti ajakan temannya tersebut. Ternyata, Lian bukan dibawa ke forum diskusi, melainkan ke satu tempat di daerah “hijau” (kawasan kelompok muslim). Keganjilan itu makin dirasakan Lian saat digelandang ke sebuah ruangan seluas setengah lapangan badminton. Di tempat ini telah menunggu belasan pemuda, sebagian di antara mereka dikenalnya.

Salah satu dari mereka langsung mencecar ihwal alasan Lian, yang beragama Kristen, mengenakan jilbab. Pakaian itu dianggap sebagai cara menjalankan misi memata-matai kegiatan warga muslim. “Saya sadar benar dengan siapa saya berhadapan,” kata Lian, mengenang kejadian malam itu.

Lian menjelaskan bahwa dirinya tidak mengenakan jilbab, melainkan pelindung kepala dan telinga dari panas serta dinginnya udara. Jawaban itu rupanya tidak bisa diterima. Bahkan Lian disebut sedang melakukan kristenisasi di wilayah Islam.

Abdul Kadir Abdjul, Wakil Ketua Himpunan Pemuda Alkhairaat Kabupaten Poso, mengatakan waktu itu Lian memang dicurigai. Dalam diskusi, dia juga dinilai salah membandingkan nabi versi umat Islam dengan versi umat Kristen. Namun, menurut Abdul Kadir, Lian cukup mampu berargumentasi tanpa menyinggung perasaan para pemuda. “Kalau dia salah menjawab, masalahnya bisa lain,” ujarnya.

Acara debat itu berakhir menjelang pukul tiga dinihari. Ketegangan berangsur cair dan mereka saling memahami keyakinan masing-masing. “Beberapa pemuda malah mengantar pulang Lian sampai di rumahnya,” ujar Abdul Kadir, yang kini menjadi kawan karib Lian.

Para Korban Trauma, Jadi Agen Perdamaian

Konflik agama yang terjadi di Poso menciptakan trauma mendalam. Luka batin ini menyebabkan curiga dan rasa benci antar-agama. Inilah salah satu tantangan yang dihadapi Lian Gogali, 35 tahun, pendiri Sekolah Perempuan Mosintuwu untuk merekatkan kembali hubungan Muslim-Kristen.

Abdul Kadir Abdjul, Wakil Ketua Himpunan Pemuda Alkhairaat Kabupaten Poso, mengatakan trauma anak-anak masih melekat. Anak-anak kerap menggambar pistol atau batang dinamit yang diberi jam bundar di buku gambar mereka. “Suatu saat, mereka bisa saja terlibat konflik lagi,” kata Anto, panggilan pria 32 tahun yang aktif mendampingi anak-anak korban konflik itu.

Tak hanya anak-anak, ibu rumah tangga pun menyimpan trauma. Martince Baleona, 47 tahun, misalnya. Trauma perempuan ini belum sembuh saat menghadiri pembukaan Sekolah Kristen di Kelurahan Bukit Bambu, Kecamatan Poso Kota Selatan, pada 2009. Empat tahun sebelumnya, tiga keponakannya yang masih SMA dipenggal.

Pada tahun 2000, Martince mengungsi karena Bukit Bambu, yang menjadi permukiman umat Kristen, dibakar habis oleh sekelompok orang. Martince dan suami serta anaknya bersembunyi di hutan sebelum hijrah ke Pamona. Dia baru kembali ke Bukit Bambu setelah Deklarasi Malino. Namun rasa waswas belum sirna. Setiap berkebun, Martince lari jika melihat tetangganya yang muslim berada di ladang.

Trauma yang sama dialami Ramla Ulee, 40 tahun. Dua orang tuanya diculik Tentara Merah—julukan untuk kombatan Kristen—dan tak kembali. Sejak saat itu, dendam kesumat menancap kuat. Jangankan bertegur sapa, melihat warga Kristen saja Ramla tak sudi. “Saat datang ke Sekolah Perempuan, rasanya saya ingin pukul atau saya mau makan mereka,” kata Ramla, meluapkan kebenciannya.

Trauma pasca-konflik ini dibenarkan Rafiq Syamsuddin, mantan kombatan kelompok Islam. Perselisihan dan saling curiga mulai lenyap setelah Deklarasi Malino. Dulu, kata dia, soal makanan bisa memicu pertengkaran, karena antara penganut Islam dan Kristen saling curiga. “Buah dan sayur pun beragama di sini,” ujarnya.

Inilah tantangan yang dihadapi Lian Gogali. Tak mudah memang melunturkan kebencian dan dendam. Wanita satu anak ini sempat kebingungan mempertemukan para ibu yang masih bernoda trauma. Sebagian menolak berada dalam satu ruangan bersama dengan mereka yang berbeda agama. “Sebelum ikut Sekolah Perempuan, saya berpikir orang Islam itu pembunuh. Akhirnya saya sadar penilaian itu salah,” kata Martince.

Perjuangan Lian Gogali membuahkan hasil. Para ibu ini ikut menjadi agen perdamaian di Poso. (Sumber: Tempo).

%d bloggers like this: