Welcome to Poso

Festival Danau Poso 2011

Posted on: 29 October 2011

Paduan Suara Kontemporer Siswa-siswi SMU GKST Poso

Festival Danau Poso (FDP) kembali digelar di kota wisata Tentena, Poso , Sulawesi Tengah. Festival budaya masyarakat Poso ini dibuka secara resmi oleh Gubernur Sulawesi Tengah, Longki Djanggola pada tanggal 28 Oktober 2011 dan direncanakan berlansung sampai tanggal 31 Oktober 2011.

Penyelenggaraan FDP kali ini memasuki kali yang ke-14 dan dilangsungkan di arena FDP, yaitu suatu kawasan luas di tepian danau Poso. Di arena FDP sendiri telah berdiri bangunan-bangunan permanen berupa rumah adat suku Pamona yang difungsikan sebagai akomodasi kontingen-kontingen dari kabupaten lain selama FDP berlangsung.

Acara pembukaan FDP berlangsung cukup meriah dengan kehadiran jajaran pemerintahan propinsi Sulteng serta bupati dari beberapa kabupaten yang turut memeriahkan acara ini. Sayangnya penyelenggaraan pekan budaya ini, sebagaimana juga di daerah lain, masih sarat unsur politis.

Acara pembukaan FDP juga tidak lepas dari acara birokratis yang membosankan. Setidaknya 3 sambutan dibacakan di hadapan hadirin yang sesungguhnya menantikan suasana festival. Jadilah acara pembukaan benar-benar seperti upacara atau rapat formal pemerintahan. 2 orang wisatawan asing yang tadinya duduk di panggung kehormatan langsung beranjak pergi saat sambutan-sambutan dimulai. Untung saja Menteri Pariwisata tidak hadir untuk menambah panjang daftar sambutan.

Gadis-gadis Poso dalam balutan busana adat Pamona

Potensial

Festival Danau Poso sebetulnya sangat potensial untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata. Penyelenggaraan FDP yang mengambil tempat di tepian danau Poso yang indah. Keberadaan infrastruktur sudah sangat baik. Sayangnya pemerintah Poso sepertinya belum mengerti cara memaksimalkan potensi wisata daerahnya.

Penyelenggaraan FDP pun masih dikemas setengah hati. Di lokasi FDP sangat sulit menemui tempat makan yang layak ataupun tempat untuk sekedar minum kopi. Beberapa tamu yang kelaparan terlihat memenuhi  warung-warung yang berjarak beberapa kilometer dari arena FDP. Fasilitas toilet umum juga tidak terlihat.

Arena FDP sendiri sebetulnya bisa menghasilkan PAD sepanjang tahun tanpa perlu menunggu penyelenggaraan FDP. Bila dikelola dengan baik, arena FDP bisa dikembangkan sebagai taman budaya yang indah dan layak untuk dikunjungi.  Keindahan danau Poso sebetulnya jauh lebih indah dari danau Bedugul dan danau Batur di Bali dan sangat layak untuk dimaksimalkan.

Puteri Pariwisata 2011

Putri Pariwisata 2011, Melissa Putri Latar yang menghadiri FDP 2011 didampingi Puteri Wisata Sulteng 2010 mengemukakan hal senada. Ia terlihat sangat terkesan dengan keindahan danau Poso dan mengatakan bahwa masih banyak potensi wisata yang seharusnya bisa dikembangkan untuk kemajuan masyarakat Poso.

Masyarakat Pamona, suku asli Poso, sebetulnya sangat kaya dengan atraksi budaya yang harus dilestarikan. Salah satu atraksi kesenian yang ditampilkan adalah orkestra musik bambu yang menyambut setiap tamu yang datang. Pembukaan FDP 2011 ditutup dengan penampilan paduan suara kontemporer siswa-siswi SMU GKST Poso yang membawakan 2 lagu berbahasa setempat, disertai gerak tari yang menarik.

Sosialisasi dan Keseriusan Pemda

Festival Danau Poso sebenarnya cukup terkenal, terutama di kalangan masyarakat Sulawesi Tengah. Akan tetapi bila penyelenggaraan FDP memang dimaksudkan untuk menarik wisatawan, sepertinya tujuan itu masih belum tercapai. Pantauan Posocity di acara pembukaan FDP menunjukkan tidak adanya tanda-tanda kehadiran wisatawan yang signifikan.

Hal ini kemungkinan disebabkan karena  kurangnya promosi dan sosialisasi penyelenggara FDP, dalam hal ini pemda Kabupaten Poso dan pemda Sulawesi Tengah. Padahal acara-acara yang disiapkan cukup beragam. Misalnya saja lomba perahu di danau Poso, pagelaran busana adat, lomba menangkap ikan sogili (ikan khas danau Poso), pemilihan putera-puteri wisata Sulteng, Panjat pinang, lari massal 10 dan 5 km, lomba tarian dero yang sangat populer di Sulawesi, dan berbagai aktivitas budaya lainnya.

Animo masyarakat dan wisatawan untuk mendatangi FDP juga sangat rendah. Hal ini terlihat dari pengunjung FDP yang hanya didominasi oleh pegawai pemerintahan yang termobilisasi ke arena. Pengunjung mayoritas FDP lainnya adalah unsur pengamanan dari Polri yang cukup mencook,baik yang berseragam maupun berpakaian sipil. Masyarakat umum yang ada di lokasi tidak terlalu banyak dan berdiri agak jauh dengan pengawalan aparat.

Di hari berikutnya, stand-stand pameran tetap saja lengang. Barang-barang yang dipamerkan memang tidak menarik sama sekali. Padahal jika diimbangi dengan promosi yang baik, ajang ini dapat dimanfaatkan untuk mempertemukan penjual dan pembeli potensial. Tidak heran, pada hari kedua, beberapa stand tak perpenghuni lagi bahkan sudah mulai dibongkar.

Semoga penyelenggaraan FDP berikutnya jauh lebih baik untuk layak disebut Festival.

Orkestra Musik Bambu, sepertinya perlu regenerasi

%d bloggers like this: