Welcome to Poso

Semalam di Danau Poso

Posted on: 18 April 2010

Crystal clear water of Poso Lake @Siuri

Mengunjungi Poso, rasanya tidak afdol jika tidak menyaksikan langsung keindahan danau Poso. Itu pesan dari teman-teman di Bandung ketika saya mengutarakan rencana mengunjungi Sulawesi Tengah. Sebagai mahasiswa pertukaran pelajar, saya selalu memanfaatkan waktu luang untuk berkelana di Indonesia.

Mendarat di Palu (Maret 2010), saya meneruskan perjalanan dengan mobil sewaan (travel). Mitsubishi L-300 yang saya tumpangi sangat nyaman dengan AC plus musik yang asyik. Sepanjang jalan, rasanya terbuai dengan alunan irama Manado.

Teman-teman mengingatkan saya sebelum berangkat bahwa jalanan di daerah Kebun Kopi, sekitar satu jam dari Palu, agak rusak dan sering longsor. Hati saya agak keder juga ketika mobil mendekati daerah tersebut.

Akan tetapi kekuatiran saya langsung lenyap. Daerah Kebun Kopi sangat berbeda dengan yang digambarkan teman saya. Jalanan sangat lebar dan lega. Mulus pula. Rasanya seperti di jalan tol yang berkelok he he… Maklum, kendaraan tidak banyak sehingga slogan tol: ”Jalanan bebas hambatan” justru sangat terasa. Ini jalan tol di pegunungan.

Sepanjang jalan menuju Poso, mata terbuai dengan keindahan pemandangan. Lekuk-lekuk pantai berseling dengan pemandangan gunung di sisi lain membuat mata susah dipejamkan. Sayang kalau terlewat. Makanya usahakan dari Palu ke Poso, jalan siang hari.

Tak terasa kami memasuki kota Poso. Ternyata Danau Poso masih sekitar 60 km dari kota Poso. Untung Gary, rekan saya di Poso sudah menunggu dengan mobilnya. Kamipun melanjutkan perjalanan ke kota Tentena, dimana Danau Poso berada.

Kota Tentena merupakan kota kecil diketinggian sekitar 600 m dari permukaan laut. Udaranya sejuk dengan pemandangan indah. Rumah-rumah penduduk tertata baik dengan taman-taman yang indah di setiap pekarangan. Rasanya memasuki kota bunga.

Di kota Tentena, Danau Poso sudah terlihat. Bahkan kami menyeberangi jembatan di atas Danau Poso.

”Kita akan menginap di Siuri,” kata Gary sambil melajukan kendaraan di jalan aspal. Sepanjang tepian Danau Poso terdapat hotel maupun penginapan bagi wisatawan. Ada juga yang model villa. Kami sempat mendatangi salah satu villa yang dikelola orang Belanda di salah satu sisi danau yang sepi. Akan tetapi villa tersebut kosong. Padahal di dalamnya terlihat lengkap banyak peralatan seperti kulkas, televisi, sound system sampai minuman impor.

Sempat terlintas keanehan di benak saya. Kok bisa ditengah hutan dan danau sepi ini ada villa lengkap dengan isinya, tetapi tidak dijaga sama sekali.

Gary hanya tertawa menangkap keheranan saya,” Tenang fren. Daerah kami justru mungkin yang teraman. Apa yang kamu dengar sebelumnya hanyalah masa lalu. Sebetulnya aslinya kami ya, seperti ini. Welcome!”

Perjalanan kami sesekali melewati deretan motor yang diparkir di sisi hutan atau kebun. Kebanyakan dengan kunci masih menggantung di lubangnya.

”Itu motor-motor punya petani kakao. Kebun mereka kebanyakan dibalik hutan atau di seberang bukit sana,” Gary menjelaskan. Benak saya membayangkan apa yang akan terjadi bila motor-motor tersebut diparkir di kota. Hmm…rasa aman dan nyaman menelusup sukma seiring udara yang makin segar di sepanjang tepian danau.

Ohya..jangan lupa isi full baterai kamera karena sepanjang jalan, pasti tangan terasa gatal untuk terus menjepret-jepret. Kata para pelancong, Danau Poso merupakan salah satu yang terindah di Indonesia.

Lake view. One of the cottages by Poso Lake.

Sekitar 12 km berkendara dari Tentena, mobil kami membelok ke halaman Siuri Cottages. Tidak seperti tempat wisata lainnya yang selalu ramai, Siuri Cottages sangat senyap. Di situ hanya terdapat 2 penjaga hotel yang merangkap segalanya. Resepsionis, satpam, pelayan, office boy.

12 cottage berdiri terpisah pas di tepian danau Poso. Air danau sangat bening dan tenang, terasa menantang untuk direnangi. Saya hanya meletakkan ransel, langusng membuka sepatu dan byuuurrrr… Relung-relung badan rasanya dipenuhi kesejukan.

Sore itu Danau Poso rasanya milik saya sendiri. Sepanjang mata memandang, tidak ada satu object pun yang terlihat di permukaan air. Hanya saya, saya… Gary hanya tertawa-tawa melihat tingkah saya di danau. Dia rupanya lagi asyik dengan kopinya di teras cottage.

Kalau hanya untuk berenang, ngapain ke danau Poso? Itu mungkin pertanyaan di pikiran kalian. Tetapi –trust me-, sangat terasa nyaman, indah, segar…ah di negara saya tidak mungkin saya bisa sepuas ini ’memiliki’ danau maha luas.

Sepanjang sore sampai malam entah berapa kali saya naik turun berenang. Sesekali saya selingi dengan tiduran di pasir yang berwarna keemasan sambil makan durian dan langsat yang kebetulan sedang musim. Indonesia memang indah ya.

Sore menjelang. Siuri Cottages menyediakan makanan, tetapi Gary rupanya mempersiapkan liburan saya dengan baik. Dia membawa box plastik yang berisi beberapa ekor ikan segar yang telah dibumbui. Dalam sekejap, asap mulai membubung dari perapian yang kami buat di atas gundukan pasir. Aroma ikan bakar memancing selera. Sambal tomat segar dengan irisan jeruk nipis, wow…perfect vacation.

Tidak berapa lama, sebuah mobil memasuki halaman Cottage. Rupanya teman-teman Gary menyusul dari Poso dan Tentena. Mereka membawa buah dan minuman kaleng. Suasana menjadi lebih ramai. Apalagi ketika Ishak mulai memetik gitarnya. Saya tidak bisa menyanyikan lagu-lagu Indonesia, tetapi…jujur…saya sangat menikmati suasana ini.

Tidak ada bekas diwajah-wajah mereka bahwa mereka telah melalui masa-masa sulit beberapa tahun lalu. Semua tertawa, riang dalam hembusan angin yang menghasilkan nada-nada deburan ombak kecil di permukaan danau Poso.

Ketika malam tiba, saya tidak sabar menunggu pagi. Sepanjang malam, saya bisa mendengar alunan ombak. Cottage memang hanya berjarak 10m dari tepian danau. Tsunami? Ini bukan laut man, danau. So, tidur dengan nyanyian ombak danau memang mengasyikkan.

Pagi-pagi saat matahari mulai mengintip malu-malu dari kejauhan, kamera saya jadi sibuk. Sambil motret-motret kaki saya menikmati kelembutan pasir. Kicauan burung alam…wow sungguh banyak yang harus saya cerita. Ketika badan mulai hangat, byuuurrrr…

Nanti saya sambung lagi ya ceritanya.. Berenang dulu ah…

(Tulisan kiriman Jana Wakowska, Polandia)

%d bloggers like this: