Welcome to Poso

Bea Cukai Poso: Flash 2009

Posted on: 15 January 2010

Bea Cukai Poso memeriksa barang PLTA Poso Energy

Sekilas Poso, 2009

Tahun 2009 menorehkan banyak hal bagi kawasan Poso dan sekitarnya. Berbagai catatan kelam sebelumnya, semakin memudar diganti wajah-wajah ceria penuh optimisme. Dua hari raya keagamaan yang dirayakan lebih semarak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, setidaknya menjadi penanda.

Hari Idul Fitri di bulan September 2009 mungkin terasa sarat makna bagi warga Poso. Di hari fitri tersebut, banyak keluarga yang kedatangan kerabat dan sahabat non-Muslim untuk pertama kalinya sejak pertikaian yang menciptakan pemisah selama beberapa tahun.

Walhasil, bukan hanya tawa ria yang terdengar. Di kebanyakan rumah justru terdengar tangisan yang pecah diantara pelukan tanda kerinduan yang bertahun baru terpenuhi. Bagi masyarakat Poso, Idul Fitri 2009 membawa kemenangan sejati. Kemenangan atas diri sendiri dan belajar untuk menghargai persaudaraan dengan lebih baik.

Dipenghujung Nopember 2009, sehari setelah Idul Adha, kota Poso kembali semarak dengan kedatangan Pawai Natal. Ribuan kendaraan roda dua serta roda empat berarak mengitari jalan-jalan kota Poso. Lagu-lagu natal terdengar nyaring bersahut-sahutan dari mobil-mobil bak terbuka.

Itulah cara warga Poso menandai masa Natal yang datang dibulan Desember. Ribuan warga berjejal sepanjang jalan menyaksikan Sinterklas dadakan yang berkendara sepeda motor. Pawai Natal kali ini jauh lebih meriah dibanding tahun-tahun sebelumnya. Peserta pawai Natal pun ternyata tidak melulu warga Kristiani. Tidak sedikit warga Muslim Poso ikut berpartisipasi. Keharmonisan yang dirindu kini semakin mengktistal di tahun 2009.

Meski kenangan kecil ini tidak menjadi berita besar, akan tetapi tonggak kemajuan Poso dan sekitarnya justru semakin kuat terpancang dari semangat persaudaraan ini.

Catatan KPPBC Poso

Situasi kemasyarakatan yang semakin kondusif juga berdampak pada perbaikan roda perekonomian. Termasuk dalam hal ekspor impor. Kegiatan ekspor dari wilayah Kabupaten Poso, Morowali dan Tojo Una-una (Touna) dapat dilayani termasuk selama masa-masa sulit yang lalu.

Pada tahun 2008 dan 2009 masing-masing terdapat 14 dan 17 proses ekspor. Nilai total ekspor mencapai Rp722 Milyar (2008) dan Rp278 Milyar (2009). Komoditi eskpor utama kawasan ini adalah minyak mentah, nikel, dan minyak sawit CPO. Angka ini belum termasuk komoditi lain seperti ikan, kopra, kakao, atau CPO yang berasal dari daerah ini, tetapi diekspor melalui pelabuhan di daerah lain karena ketiadaan dukungan sarana dan infrastruktur.

Sampai dengan tahun 2008, belum ada kegiatan impor yang dilakukan melalui ketiga kabupaten tersebut. Awal tahun 2009, proses importasi untuk pertama kalinya dilakukan sehubungan dengan importasi barang-barang modal yang dilakukan oleh PT Fu Hui Indonesia dan PT Poso Energy.

PT Fu Hui Indonesia melakukan proses ekspor di daerah Kabupaten Morowali, sementara PT Poso Energy diproses impornya di pelabuhan Poso. Selama tahun 2009, terdapat 21 dokumen impor dengan nilai barang impor mencapai Rp1.211 Trilyun. Kebanyakan barang-barang tersebut merupakan barang modal yang mendapatkan fasilitas pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

Dari keseluruhan proses impor ditahun 2009, Bea Cukai Poso berhasil mengumpulkan penerimaan negara sebesar Rp4,91 Milyar dengan rincian:

–         Bea Masuk                  Rp1,86 Milyar

–         PPh                             Rp400 Juta

–         PPN                            Rp2,65 Milyar

Target penerimaan tahun 2009 untuk KPPBC Poso ditetapkan sebesar Rp477 juta. Dengan demikian, KPPBC Poso mencatat prestasi pencapaian target sebesar 389%.

Walaupun sistim pembayaran sudah dilakukan secara otomasi langsung oleh importir di bank persepsi, sedikit kendala yang dihadapi di Poso adalah ketiadaan bank persepsi. Akibatnya importir masih harus melakukan pembayaran Bea Masuk dan pajak-pajak impor ke bank persepsi di Palu. Bukti pembayaran inilah yang digunakan untuk proses impor di Poso.

Meneropong kedepan, harapan optimis sudah selayaknya dimiliki mengingat ketersediaan infrastruktur kelistrikan yang diharapkan mulai membaik ditahun 2010 ini. Selain itu masih banyak potensi daerah ini yang belum tergali secara maksimal. Beberapa investorpun masih mengharapkan perbaikan infrastruktur jalan, pelabuhan udara/laut sebelum menanamkan modalnya di Poso dan sekitarnya.

Customs Community

KPPBC Poso yang digawangi (hanya) 7 personil diharapkan dapat memberi pelayanan dan pengawasan kepabeanan dan cukai atas 3 kabupaten yaitu: Kabupaten Poso, Morowali dan Touna. Luas daerah pengawasan keseluruhan mencapai 29.974 km2 atau hampir setengah (44%) dari luas Propinsi Sulawesi Tengah (68.033 km2).

Luasnya daerah pengawasan membawa tantangan tersendiri. Pelanggaran kepabeanan dan terutama cukai dapat terjadi di mana saja. Titik-titik pelayanan dan pengawasan kebanyakan berjarak ratusan kilometer dari kantor base di Poso. Kendaraan dinas lebih sering tidak bisa menjangkau daerah-daerah yang kondisi jalannya masih parah, terutama di daerah kabupaten Morowali.

Menyadari keterbatasan personil dan sarana untuk pengawasan, Kepala KPPBC Poso, Adeltus Lolok, memandang perlu membangun suatu Customs Community (masyarakat kepabeanan) untuk membantu Bea Cukai dalam menjalankan fungsinya. Ide dasarnya adalah bahwa masyarakat harus dibina dan diberdayakan untuk menjadi mitra Bea Cukai, bukan sekedar penonton. Masyarakat dapat menjadi kekuatan yang membantu tugas dan fungsi Bea Cukai.

Hal ini ternyata sejalan dengan tema Hari Kepabeanan Internasional 2010 yang ditetapkan WCO yaitu Customs and Business: Improving Performance through Partnership. Meski tema tersebut menyasar kalangan bisnis, BC Poso memperluas implementasi tema tersebut ke seluruh kalangan masyarakat. Masyarakat sebaiknya berperan aktif mendukung proses penegakan fungsi-fungsi kepabeanan dan cukai.

Kendalanya adalah tingkat pemahaman masyarakat akan fungsi dan tugas Bea Cukai tidak selalu memadai. Apalagi di daerah yang dianggap terpencil, termasuk di pulau-pulau. Hingar-bingar media massa yang memberitakan berbagai prestasi enforcement Bea Cukai, malah berpeluang memplintir pemahaman masyarakat akan Bea Cukai.

”Kami harus menemukan cara-cara tersendiri untuk memberi  pemahaman kepada masyarakat kami bahwa Bea Cukai bukan sekedar urusan narkoba atau penyelundupan barang mewah. Bahwa Bea Cukai juga berurusan dengan masalah lingkungan hidup, pengawasan distribusi MMEA, pembinaan usaha kecil untuk tujuan ekspor, rokok polos, bahkan  untuk mencegah aksi terorisme,” kata Adeltus.

Proses sosialisasi ke masyarakat pun dilakukan dalam berbagai kesempatan. Mulai dari obrolan warung kopi sampai sosialisasi di koran lokal. Dua koran lokal yang menjangkau ketiga kabupaten tersebut, secara bersamaan menurunkan tulisan berjudul ”Mengenal Bea Cukai Lebih Dekat” di awal tahun 2010 ini. Tulisan tersebut memberi ulasan satu halaman penuh tentang Bea Cukai termasuk kaitan tugasnya dengan instansi lain.

Customs Community, masyarakat yang memahami akan tugas dan fungsi Bea Cukai sangat diperlukan. Dimasa mendatang, diharapkan bahwa setiap anggota masyarakat di daerah akan lebih paham, semakin percaya diri dalam melaporkan setiap tindak pelanggaran dibidang kepabeanan dan cukai ke Kantor Bea Cukai terdekat.

”Secepat menghubungi 008,” kata Adeltus sedikit berandai-andai. Tidak ada salahnya bermimpi asal diikuti dengan usaha.

Customs Day 2010

Sebagai bagian dari upaya membentuk Customs Community, KPPBC Poso senantiasa berusaha membina hubungan baik dengan berbagai instansi. Terutama instansi yang merupakan ”tetangga” dekat seperti Administrasi Pelabuhan, KP3, Karantina dan sebagainya. Bahasa pemersatu yang bisa cepat mengumpulkan pegawai kantor-kantor tersebut adalah olahraga. Salah satunya turnamen Tennis Meja yang ikut menyemarakkan peringatan Hari Kepabeanan Internasional 2010 di Poso.

Bea Cukai Poso membuat terobosan dengan melibatkan masyarakat Poso dan sekitarnya untuk mengenal Hari Kepabeanan Internasional. Sejak bulan Desember 2009, diadakan lomba karya tulis kepabeanan yang dapat diikuti berbagai kalangan masyarakat. Lomba tersebut dibuka untuk umum dengan kategori wartawan, pelajar serta mahasiswa dan umum.

”Tujuan lomba ini sebetulnya untuk menyemangati masyarakat menulis sambil menggelitik keingintahuan mereka akan kepabeanan dan cukai. Jadi ada fungsi sosialisasi didalamnya. Persyaratan kita buat longgar agar tidak menyulitkan calon peserta,” kata Syaiful Waroka selaku Ketua Panitia lomba.

Dari tulisan-tulisan yang masuk, dapat terukur bahwa diperlukan upaya lebih keras lagi untuk membawa Bea Cukai ke dalam benak masyarakat Poso dan sekitarnya. Upaya mewujudkan masyarakat kepabeanan mungkin masih jauh, tetapi bukanlah kemustahilan.

Patut disyukuri bahwa pemenang lomba pun cukup beragam, menunjukkan antusiasme menulis peserta. Juara pertama disabet oleh seorang ibu guru SD. Pemenang lainnya adalah mahasiswa, anggota Polri, siswa SMK, dan lain-lain. Para pemenang lomba ini mendapatkan sertifikat dan piala dari Kepala KPPBC Poso. Pialanya sendiri cukup unik karena terbuat dari kayu hitam yang asli khas Poso. Desain pialanya dibuat oleh Kepala KPPBC Poso sendiri.

Selamat bertugas, Bea Cukai Poso!!

%d bloggers like this: