Welcome to Poso

Ketika ‘Sogili’ dan ‘Bungu’ Tinggal Cerita

Posted on: 9 June 2009

Suatu pagi, pekan lalu, tepi Danau Poso, Tentena, Kabupaten Poso (265 kilometer arah selatan Kota Palu), Sulawesi Tengah, Yusuf Tasiabe (48) menunjukkan seekor sogili (sejenis belut) dalam keramba. Di dalam jaring, tubuh binatang licin itu meliuk-liuk. Nyaris saja sogili itu melompat keluar jaring kalau Yusuf tak sigap menutup jaring.

”Rugi kalau sampai sogili lepas lagi ke danau. Selain harganya mahal, mendapatkannya sudah susah sekali. Ini saya dapatkan sebulan lalu dan simpan di keramba. Kalau ada yang mau beli, tinggal dijual,” katanya.

Yusuf dan sogili yang mahal

Yusuf dan sogili yang mahal

Yusuf beruntung punya sogili, walau cuma seekor. Banyak nelayan di daerah itu tak bisa lagi mendapatkan sogili walau sudah memasang perangkap berbulan- bulan. Perangkap biasanya dipasang di sekitar danau, berupa pagar bambu yang berfungsi menjerat sogili yang lewat. Biasanya sogili melewati danau menuju muara untuk bertelur kemudian masuk kembali ke danau. Sogili adalah salah satu biota air endemik Danau Poso.

Karena sudah kian langka, tidak sedikit nelayan yang tadinya menangkap sogili beralih haluan memelihara ikan mas dan ikan nila. Salah satunya, Yeferson Nanggari (35).

”Dulu banyak sogili di danau, tapi beberapa tahun terakhir susah sekali untuk dapat,” kata Yeferson, penjaga keramba milik salah satu kelompok nelayan di Danau Poso.

Tak hanya sogili, salah satu ikan endemik di Danau Poso yang saat ini boleh dikata tidak pernah tampak lagi adalah bungu, sejenis ikan gabus dengan tulang lunak dan daging tebal.

”Kalau bungu, sekarang boleh dibilang torang (kita) cuma bisa dengar ceritanya saja. Kalaupun pernah ada satu dua ekor kelihatan, ukurannya pun kecil, tidak seperti dulu. Waktu saya masih muda dan mencari ikan di Danau Poso, masih banyak dapat bungu. Boleh dibilang yang memenuhi Danau Poso cuma sogili dan bungu,” kata Yusuf. Hal sama diungkapkan nelayan lain, Robert (40).

Endemik yang punah

Sogili dan bungu adalah biota air endemik Danau Poso yang kini di ambang kepunahan. Sogili adalah sejenis belut bertelinga dengan ukuran besar. Menurut nelayan setempat, dulu mudah menemukan sogili dengan panjang 180 cm, bahkan 2 meter dengan berat 20-30 kg per ekor. Selain licin, kulitnya bertutul. Saat ini ukuran paling panjang hanya sekitar 150 cm dengan berat maksimal 20 kg.

”Kalau dulu, rasanya tak afdol bikin hajatan dan perjamuan tanpa sogili dan bungu,” kata Pendeta Renaldi Damanik, tokoh agama di Tentena.

Adapun bungu adalah ikan sejenis gabus. ”Dagingnya lebih tebal bahkan sampai di bagian kepala. Tulangnya lebih lunak,” kata Yusuf.

Sekitar 10 tahun lalu, saat belum langka, sogili jadi incaran pedagang dari Makassar, Surabaya, Bali, Jakarta, dan kota lain, sebagian diekspor ke China, Hongkong, Thailand, dan negara lain. Harganya cukup mahal, bisa mencapai Rp 100.000 per kilogram. Boleh dikata, sogili adalah makanan mewah.

Ada banyak dugaan penyebab punahnya kedua jenis biota endemik itu. Nelayan setempat menyebut letusan Gunung Colo tahun 1983 sebagai salah satu penyebab.

Namun, menurut Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Poso, M Arif Latjuba, selain ekosistem danau mulai rusak, penangkapan berlebih termasuk sogili dan bungu yang masih kecil juga menjadi penyebab punahnya biota air itu.

Kerusakan ekosistem danau diakui Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Poso G Balebu. Menurut Balebu, saat ini Danau Poso mengalami pendangkalan hebat. Data menunjukkan, luas danau semula 36.677 hektar. Saat ini diperkirakan sudah 19,28 persen atau 7.072,64 hektar mengalami pendangkalan. (Kompas, 080609)

%d bloggers like this: