Welcome to Poso

Poso Mulai Dilirik Investor Asing

Posted on: 19 May 2009

Dalam kurun waktu dua bulan terakhir, Presiden Direktur Ina International Liem Tin asal Singapura, sudah dua kali menjelajahi tanah Poso, Sulawesi Tengah, daerah bekas konflik komunal itu. Tidak hanya di perkotaan yang dikunjunginya, tetapi pelosok desa juga didatanginya tanpa rasa khawatir apalagi takut.

“Tidak ada kekhawatiran soal keamanan di Poso. Kami telah menyaksikan sendiri bahwa Poso kini aman untuk investasi,”kata Nevita Anastasia, General Manager Ina Internasional Jakarta yang selalu mendampingi bosnya berkunjung ke Poso belum lama ini.

“Kami malah akan menjadikan Poso dan Sulawesi Tengah umumnya sebagai pusat kegiatan investasi di bidang pengelolaan sumber daya alam (natural resources) seperti perikanan dan kelautan, pertambangan serta pertanian,” ujar Nevita. Menurut catatan Pemkab Poso, Ina International merupakan investor asing pertama yang tampak serius untuk menanam modal di daerah eks konflik ini.

 “Karena itu, kami memberikan perhatian yang serius kepada mereka. Kami tidak ingin mereka merasa ditolak di daerah ini,” kata Piet Inkiriwang, Bupati Poso yang ditemui di kantornya belum lama ini. Ada tiga bidang investasi yang ditarget Ina International di Poso dalam jangka pendek yakni pembudidayaan ikan sidat di Tentena, kota wisata di tepian danau Poso, peternakan sapi potong dan sapi perah di Kecamatan Pamona Utara serta penangkapan ikan tuna dan budidaya ikan kerapu di teluk Tomini.

Selain di Kabupaten Poso, Ina Internasional sedang mengeksplorasi potensi tambang biji besi di Kabupaten Tojo-Unauna, sebuah kabupaten baru yang memisahkan diri dengan Poso pascakonflik horizontal di Poso tahun 2000 lalu. Investor ini akan mengembangkan budidaya ikan sidat atau belut (sogili) di Danau Poso, dengan sistim keramba yang melibatkan nelayan setempat yang selama ini menangkap sogili dengan cara-cara tradisional.

“Kita akan menerapkan sistim keramba karena itu yang paling cepat meningkatkan kesejahteraan nelayan. Semua produksinya akan diekspor,” kata Nevita Anastasia. Presiden Direktur Ina International Liem Tin seperti dikutip Nevita mengaku tertarik berinvestasi mengembangkan budidaya ikan sidat di Tentena, kota wisata di tepian danau Poso, sekitar 56 km Selatan Kota Poso karena potensinya sangat besar dan warga setempat sudah lama menggeluti penangkapan ikan sidat.

Selain itu, pasar ikan sidat di dunia sangat besar, terutama ke Taiwan, Hongkong, Jepang, China dan beberapa negara Eropa dan kebutuhan mereka selama ini belum pernah tercukupi. Untuk tahap pertama, kata Nevita, Ina International akan mengembangkan dua sampai 10 buah keramba sebagai percobaan dan akan dimulai bulan Maret dan pelaksanaannya secara teknis akan dibantu oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Poso serta pengusaha lokal yang akan menjadi mitra PT. Ina di Poso.

Perusahaan belum bisa mengembangkan keramba dalam jumlah besar karena kendala transportasi, sebab ikan sidat harus diekspor dalam bentuk hidup (segar) sementara penerbangan ke Poso dari Palu baru sekali sepekan menggunakan pesawat relatif kecil yakni Cassa-212. Untuk mengangkut ikan sidat hidup melalui darat ke Kota Palu dan Makassar, Sulawesi Selatan yang memiliki penerbangan rutin dengan pesawat besar setiap hari, resikonya terlalu besar, karena untuk ke Palu harus menempuh perjalanan darat sekitar tujuh jam sedangkan kalau ke Makassar sekitar 24 jam.

“Jadi kami akan melihat dulu kelancaran transportasi udara ke Poso, kalau memang mendukung, maka segera akan kami kembangkan keramba secara besar-besaran,” ujarnya. Selain budidaya sidat, PT. Ina juga menjajaki rencana investasi bidang peternakan sapi potong dan sapi perah. Untuk kepentingan ini, PT. Ina sudah meminta pencadangan lahan seluas 100.000 hektare dari Pemkab Poso. Pemkab Poso sendiri telah menyetujui pencadangan lahan sekitar 30.000 hektare dalam tahap pertama di Kecamatan Pamona Utara dan akan segera dimanfaatkan untuk memelihara sapi potong dengan bekerja sama peternak setempat.

“Orientasi kita di masa depan adalah mengembangkan peternakan modern berskala internasional yang sebagian hasilnya disiapkan untuk pasar internasional,” ujar Nevita lagi. Perusahaan ini juga melirik potensi penangkapan ikan tunas di Teluk Tomini, pembudidayaan ikan kerapu bekerja sama dengan nelayan lokal serta penambangan emas.

“Dalam waktu dekat ini, kami akan mengalokasikan dana sekitar Rp200 juta untuk membiayai tahap awal investasi dua keramba ikan sidat di Tentena dan pemeliharaan ternak sapi potong percobaan sebanyak 35 ekor sapi jenis Bali di daerah Kele`i, keduanya di Kecamatan Pamona Utara,” ujarnya. Jangan Khawatir Kabupaten Poso kini sangat mengharapkan hadirnya para investor baik dari dalam negeri maupun asing untuk menanamkan modalnya guna menggarap potensi ekonomi yang `tidur` akibat konflik komunal yang terjadi tahun 2000.

“Tidak usah khawatir. Keamanan untuk para investor termasuk wisatawan dan pendatang lainnya di Poso terjaga. Kapolres dan Komandan Kodim telah memberikan jaminan soal (keamanan) itu. Rekonsiliasi antarmasyarakat yang pernah bertikai juga semakin bagus,” kata Bupati Poso Piet Inkiriwang.

Karena itu, kata Inkiriwang, setelah sibuk memulihkan keamanan, rekonstruksi perumahan dan bangunan yang rusak akibat kerusuhan serta rekonsiliasi antarwarga, Pemkab Poso kini mulai gencar membenahi diri untuk menarik investasi dan pelancong. “Kami akan memberikan pelayanan yang cepat dalam pengurusan izin, sementara infrastruktur pendukung terus dibenahi. Kami tidak mau para investor dan pendatang merasa tertolak kalau datang ke Poso,” ujarnya.

Tahun 2009 ini, pihaknya mendapat alokasi dana stimulus fiskal dari pemerintah pusat sebesar Rp38 miliar yang akan digunakan untuk membenahi pelabuhan Poso dan Bandara Kasiguncu. Sebanyak Rp20 miliar akan kita gunakan membangun kembali dermaga Poso sedang Rp18 miliar lainnya untuk perpanjangan landas pacu bandara Kasiguncu.

Pelabuhan Poso tahun depan diharapkan kembali diramaikan kapal-kapal penumpang Pelni yang ditinggalkan karena situasi di daerah itu tidak kondusif untuk merapat di pelabuhan. Akibatnya, pelabuhan yang memiliki dermaga hampir 100 meter itu kini sepi dari kegiatan.

Kami yang melihat dari dekat kondisi pelabuhan selama beberapa hari, tidak melihat satu kapal pun, termasuk kapal nelayan yang beroperasi di situ. Setiap hari, dermaga hanya ramai dengan orang yang memancing, bahkan untuk tempat pacaran pasangan muda-mudi.

Pemkab Poso telah memohon kepada Direksi PT. Pelni agar KM Tilongkabila yang saat ini menghubungkan Denpasar-Makassar-Baubau-Kendari-Luwuk-Gorontalo bisa menyinggahi pelabuhan Poso yang terletak persis di cekungan teluk Tomini itu.

Sedangkan Bandara Kasiguncu Poso yang saat ini memiliki landas pacu sepanjang 1.630 meter akan diperpanjang 500 meter lagi sehingga bisa didarati pesawat jet seperti Boeing atau Fokker-100. Dengan kondisi saat ini, Bandara Kasiguncu hanya bisa didarati pesawat kecil seperti DASH-7 atau F-27. Bahkan saat ini, penerbangan regular yang ditopang oleh dana subsidi pemerintah hanya menggunakan pesawat Cassa 212 dengan frekwensi penerbangan sekali seminggu (tiap hari Jumat) dengan rute Palu-Poso-Gorontalo pp. (Beritadaerah.com)

%d bloggers like this: